Blog Archives

Buka Puasa Bersama D’Jogloers

Hari Sabtu, 13 Agustus yang lalu saya menyempatkan berbuka puasa bersama D’Jogloers di rumah kak Harris di Kawasan Joglo. Jakarta Barat. Karena yang tinggal disana bukan hanya kak Harris sendiri, tapi ada Abid, Jekjon, Heny, Mila, Dyane dan beberapa penghuni tak tetap lainnya. Jadi saya dan beberapa teman lainnya menyebut mereka dengan sebutan D’Jogloers.

Sebenarnya ide berbuka puasa ini adalah idenya Deva *senior saya dikampus tapi seumuran* dan Kak Isma, cerita lengkapnya ada disini. Deva mengajak saya dan beberapa teman-teman alumni dan mantan pengurus HMJHI untuk masak-masak sekaligus buka puasa bersama di rumah Joglo. Sebagai orang yang paling jauh rumahnya, sudah dipastikan saya yang datang paling akhir kesana, *cowok-cowoknya datang belakangan dan maunya langsung buka puasa aja* dan sudah dipastikan juga masakannya hampir selesai semua ketika saya datang. ketika saya datang udah ada Deva yang bikin rendang keasinan 😀 lagi ngelonin si Abil, Kak Isma yang lagi asik goreng perkedel dibantu oleh lidiya, Gadis yang lagi asik nyuci piring, dan masih ada Vidy dan Dyane yang saya lupa mereka lagi ngapain. Akhirnya saya bantu-bantu ngupas buah aja supaya meringankan tugas temen-temen yang masak. :mrgreen:

Beberapa menit sebelum Maghrib masakannya selesai juga, ada rendang, sop, perkedel, tempe goreng, martabak tahu, ayam goreng, kue bolu, kurma, buah-buahan, dan es buah. sambil menunggu maghrib, seperti biasa ada sesi poto-poto disela-sela nyiapin makanannya.

Yang paling saya suka dari rumah Joglo itu adalah saungnya, dimana semuanya bisa kumpul makan disana dan benar-benar merasakan kekeluargaannya. Beberapa menit sebelum maghrib, satu persatu penghuni dan tamu-tamu joglo berdatangan, ada Abid, Mila, Kibot, Eja+Anti, dan kak Ocha+kak Gilang. dan suasana jadi tambah ramai, karena hampir semua yang diundang sudah datang.

setelah berbuka puasa bersama, kami ngobrol-ngobrol, saling melepas cerita dan yah, beberapa curhatan colongan :D. Ngejahilin Kibot, poto-poto dan bercanda. Malam itu seperti kembali ke masa-masa kuliah, hanya beda tempatyna aja. Mereka ga pernah berubah, tetep caur seperti masa kuliah dulu. untung malam itu Mr. N ga rewel, jadi saya bisa dengan santainya menghabiskan waktu dengan mereka. *diantara mereka semua baru saya saja yang sudah menikah :D*

Setelah itu Kak Harris ngajakin nonton di FX, karena jamnya mepet banget dan yang tersisa tinggal yang midnight Pukul. 24.00. akhirnya rencana nonton batal, dan diganti dengan karaokean di Nav Fatmawati. Saya cukup senang  akhirnya bisa gabung lagi sama mereka, setelah beberapa waktu sebelumnya saya ga sempet dateng ke acara ngumpul-ngumpul disana beberapa bulan lalu dan karena Mr. N juga ga rewel sama sekali, mau disuruh nyusul ke FX padahal dia dari atrium, dan mau gabung dengan temen-temen yang belum pernah saya pertemukan. dan pulangnya dini hari pula *sampai rumah sekitar jam 2 malam*, yang artinya udah lewat dari jam tidurnya Mr. N :D.

What a great night, Thanks guys *peyukkkk*

Buah-buahan yang mau dieksekusi

Si Tuan Rumah 'Kak Harris'

Si Bibi -Footnote Deva-

Sambil masak sambil poto-poto 😀

Gadis, Lidiya, Vidy, Deva, Kak Harris, saya, Dyane

This is it Masakan ala Chefs of Jogloers

Saya dan Kak Isma

Kak Harris sampai terpesona ngeliatin kita poto-poto terus 😆

Here we are. Yeayyy 😀

All Photos are taken by Ladeva Camera

Nge-pasar di Tengah Malam

Kapan terakhir kali saya ke pasar? kalau diingat-ingat terakhir kali saya ke pasar itu waktu SD, itupun cuma nemenin Ibu Suri alias mama saya belanja sayur-sayuran, dan semenjak ada tukang sayur yang standby di halaman rumah depan yang kosong, Mama udah gak pernah lagi ke pasar. Kalaupun harus ke pasar itupun karena harus belanja dalam jumlah banyak, jadi kalo ga penting-penting banget, ke pasarnya bisa beberapa tahun sekali seperti pulang kampung.

Saya sendiri sebagai anak manja yang besar di kota, lebih suka ke supermarket daripada ke pasar tradisional. Bukannya sok manja atau sombong, saya merasa gimana gitu kalau ke pasar, mulai dari ngebayangin crowdednya, macetnya (pasar di bekasi kebetulan letaknya didepan terminal bus dan angkot), sampai ke hal yang paling bikin males, becek dan preman. beberapa kali mama saya mengajak ke pasar dan beberapa kali gagal total karena langsung saya tolak mentah-mentah dengan alasan becek. saya ga mau ngebayangin becek, sumpek, rame dan pemandangan beberapa penjual sayur yang naruh sayur-sayuran ditanah dengan dialasi alas seadanya atau terpal, pemandangan seperti itu membuat nafsu makan saya jadi hilang seketika. yaikss… I hate those part!!!

anyway, gak selamanya pasar itu seburuk yang saya bayangkan. pandangan tentang pasar berubah semenjak saya rajin mengunjungi pasar tanah abang dan pasar Jatinegara. *walaupun beda jenis pasar, tetep aja namanya Pasar*. Dan tadi malam, pertama kalinya saya ke pasar tradisional lagi setelah 10 tahun lebih ga ke pasar.

Jadi ceritanya, kemarin sore si mama sms saya ketika saya lagi di kantor. Intinya sih ngajak ke pasar (lagi), ketika smsnya masuk saya cuma berkata dalam hati, si mama ngigo ya ngajakin ke pasar tengah malam. kebayang saya bakal rewel banget kalo berjalan-jalan di jam 12 malam.  ngantuknya euy ga nahan, karena besoknya juga saya harus ke rumah mama mertua di Bogor, saya pasti lebih rewel lagi. Begitu sampai di rumah, mama saya kembali ngajakin saya ke pasar, mengulang kata-kata yang sama seperti di sms mama kemarin sore. langsung aja donk saya tolak mentah-mentah, dengan 1001 jurus ngeles mulai dari capek, ngantuk, ditambah ngeboong-boong dikit dan pake rewel-rewel dikit dengan alasan, belum bilang ke Mr. N dan jurus pamungkas. “pasti becek deh”. teteup aja si mama keukeuh buat ngajakin ke pasar. dan pada akhirnya doa serta usaha ibu itu terbukti lebih manjur dari ramuan obat manapun, terbukti dengan dikeluarkannya izin dari Mr. N buat nemenin mama ke pasar. aduh, cilaka 12. saya udah ogah-ogahan aja rasanya, ditambah lagi kita ke pasarnya jam 21.30 which is means jam segitu adalah waktunya adek bayi saya bobo malem.

Tujuan ke pasar cuma satu, yaitu  nemenin tetangga saya ke Pasar. ini adalah tujuan yang paling aneh menurut saya. tapi, yasudahlah ya. saya juga udah berangkat saat tau alasannya. terpaksa deh, nahan rewel selama di perjalanan. tujuan kita adalah ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. saat itu yang kebayang adalah macetnya, dan ternyata bener, macetnya nauzubillahi min zalik, padahal pas sampe sana udah jam 11 malem. aduh, Jakarta oh, Jakarta. kau membuat ku rewel tadi malam. setelah ketemu tempat parkir, mulailah saya menggulung-gulung celana, untuk menghindari becek. setelah masuk di gerbang pasar, saya masih agak senang, belum ada becek sama sekali. makin ke dalam kok gak ada becek juga ya, saya makin curiga, jangan-jangan saya masih diluar, setelah hampir sejam keliling-keliling, saya gak menemukan becek sama sekali. Alhamdulilah, nafas lega berkali-berkali.

Selain mengamati becek *the main reason why I am not interest with the traditional market*, saya juga mengamati kegiatan yang ada di pasar itu. Saya memang baru pertama kali ke pasar (lagi) dan di malam hari pula. banyak hal yang baru saya tau tentang pasar pada malam itu. contohnya, saya gak pernah percaya kalau si mbak tukang sayur depan rumah cerita kalo si mbak itu belanja dari jam 2 malam, dan ternyata para pedagang atau agen-agen di pasar itu sudah nyiapin dagangannya semenjak jam 11 malam. wow, saya sempat diam ketika pedagang yang saya ajak ngobrol mengatakan demikian. Sedangkan jam 11 malam saya baru akan memulai ritual harian saya alias bobo malam, sedangkan mereka mulai mencari nafkah ditengah malam dikala orang-orang sedang terlelap dalam tidur mereka. lalu bagaimana dengan penghasilan mereka yang mulai tergusur karena adanya supermarket? mereka cuma menjawab “ya, jadi menurun si mbak, tapi mau gimana lagi, rezekinya memang dikasihnya segitu, ya disyukuri aja mbak, yang penting cukup buat makan setiap hari dan biaya anak sekolah.” akh… betapa kerasnya hidup ini dan betapa malunya saya yang setiap hari masih kurang bersyukur. tak lama kemudian pasar pun mulai ramai dengan para pembeli yang tidak hanya tukang sayur, tapi juga pemilik warung dan masyarakat biasa yang lebih senang berbelanja di pasar daripada di supermarket. Saya jadi malu kalau ingat perkataan mama saya, “Sesekali ke pasar donk dan lihat orang-orang yang menyiapkan kebutuhan hidup kita.”

Pasar Ditengah Malam

Kegiatan Pasar

Melayani pembeli

 

Keliling Pasar

foto diambil dari belekberi saya, maaf kalau agak buram 😉

%d bloggers like this: