Salam Kasih, Salam Indonesia – Bung Karno

Perjuangan kita memang jauh lebih berat, karena sedang menghadapi bangsa kita sendiri, saudara-saudara kita sendiri. Saya tidak tahu bisa bertahan berapa jam atau berapa hari lagi. Badan ini boleh gugur, tapi saya yakin kelak akan ada putra bangsa yang melanjutkan perjuangan ini melawan ketidakadilan dan kebiadaban negara ini. Salam Kasih, Salam Indonesia!”
– Bung Karno

Aselik, setelah baca qoutes ini saya jadi miris sendiri. kenapakah?? berawal dari kejadian kemarin sore yang membuat saya kesal setengah hidup. Kekecewaan saya dengan pihak-pihak yang akan saya ceritakan di post ini rasanya mau saya luapkan.

hufhhhttt.. tahan nafas dulu sebentar.

Sebulan yang lalu

Jadi begini ceritanya. Sebulan yang lalu kantor ditempat saya bekerja kedatangan oknum nakal tamu dari Departemen XXX , Saya udah punya firasat yang ga baik ketika mereka datang dan dengan ga sopannya langsung masuk aja karena kantor ini gak ada sekatnya sama sekali, firasat saya mengatakan kayaknya mereka bakal minta-minta duit nih.Dan bener aja kejadian gitu. Karena Bos saya WNA, jadilah dese kebingungan dengan kedatangan tiga orang oknum  departemen xxx yang mendadak dan tanpa membuat janji dulu. Basa-basi dari mereka sih katanya kunjungan rutin alias silaturahmi (ini ucapan salah satu dari mereka, ya mungkin leadernya kali ya??) alias gak ada masalah apa-apa (which is si bos sempet panik kalau-kalau ternyata perusahaan yang dese pimpin, melakukan pelanggaran, si bos bener-bener ga mau berurusan sama orang pemerintahan). Pinternya mereka, (ini kepintaran yang pertama) mereka tanya-tanya dulu tentang profil perusahaan ini, berapa jumlah karyawan? bergerak di bidang apa? dan bla-bla-bla… nah, setelah nanya-nanya tentang profil perusahaan, mulailah mereka mengeluarkan senjata pamungkas mereka. apa itu? 2 buah buku, yang satu agak tebal tapi ga lebih tebal dari kamus Bahasa Jepang – Indonesia yang ada di lemari kantor tapi ga lebih tipis juga dari sekedar buku Undang-undang. buku itu adalah “Himpunan Peraturan Pemerintah Tentang . . . . . . . .” buku yang satu lagi adalah buku tanda terima tentang penerimaan Himpunan Peraturan pemerintah itu lengkap dengan tabel diterima dari perusahaan apa? nama yang menerima dan di kolom tabel yang terakhir tertulis banyak angka-angka, ratusan ribu pastinya. Dan di kolom nama perusahaan kantor saya bekerja tertulis angka Rp. 700.000. Glek!! Saya pun bertanya.

Saya (S) : ini angka apa ya pak? (pura-pura bego)

Oknum Nakal  Tamu (ON T) : yah, itu untuk sumbangan aja mbak, terserah berapa aja.

S : kalo terserah kenapa ditulisnya tujuh ratus ribu? (mulai bawel)

ON T : yah, itu maksimalnya tujuh ratus ribu mbak. (kepintaran kedua : ngelesnya kayak ojek)

S : (gregetan)

Tettt.. tottt!!!

Kalau emang itu sumbangan dan terserah seharusnya ga mesti ditentuin donk berapa jumlah minimalnya, mau nyumbang seribu kek, lima ratus rupiah kek, atau seratus rupiah itu kan terserah kita yang mau ngasih sumbangan, tapi kenapa malah tujuh ratus ribu?? o-em-ji… dan mereka agak-agak maksa ya mintanya. Karena si bos males ngeladenin mereka dan maunya cepet kelar (ngeganggu jam kerja bok) jadilah duit kantor keluar buat buku yang menurut saya mungkin bisa di minta kharatisan kalo kita berkunjung ke kantor mereka. emang jiwa saya jiwa murahan jadinya ya maunya yang kharatisan terus:mrgreen: setelah dapet duit, langsung deh mereka pamitan kabur. giliran udah dapet duit aja kabur.

Hari Jumat yang lalu dan Senin Sore

hari Jum’at yang lalu ‘tamu’ itu alias mereka dateng lagi, personelnya cuma dua orang, leadernya gak ikutan tampaknya (mungkin dese kira udah bisa dilepas buat nyari duit kali yeee, jadi doi gak ikut-ikutan deh atau mungkin lagi nyari mangsa yang lebih geda). Pas banget si Bos hari itu ada jadwal meeting di luar kantor, akhirnya senior saya yang menghadapi mereka. ‘Barang’ yang mereka tawarkan kali ini adalah Kalender 2012 yang didalamnya ada gambar mengenai penyuluhan keselamatan dan kesehatan kerja. Saya langsung cekikikan sendiri di meja saya karena ini masih bulan Agustus dan masih lama dari tahun baru, dan gambar-gambar di kalender itu sama sekali gak mencerminkan bidang pekerjaan kami. Lha wong kami kerjaannya cuma jualan dan internetan sambil mencet-mencet keyboard laptop aja di kantor dan gak bangun-bangun gedung acan kok ya dikasih yang gambarnya “hati-hati saat menjalankan alat-alat berat dan memakai helm pelindung saat kerja”. Niat mereka sih baik ya mau memberikan penyuluhan, tapi jangan ditambahin niat mau ‘nodong’ perusahaan juga donk ya.. Masa kalender yang harganya ga sampai 50ribu dihargai jadi 350ribu sama mereka. gilak gak tuh, kalo masalah kalender sih boleh sombong, setiap bulan november selalu dapet satu dus dari kantor pusat di Jepang, dengan bahan kalender yang lebih baik dan gambar pemandangan pantai atau pulau yang lebih bagus, kalaupun mau saya jual harganya bisa lebih mahal ya daripada kalender yang mereka kasih.

Karena hari Jumat lalu mereka ga bisa nodong kita (saya dan senior saya) akhirnya mereka berusaha datang lagi di Senin sore dan pas kebetulan si Bos ada di kantor. karena bos saya ga berminat dengan kalender itu, bos saya nolak donk, dan mereka tetep kekeuh sumeukeh maksa untuk diterima dengan harga yang lebih lagi, 400 ribu. Yassalam, mentang-mentang mereka ketemu lagi sama si bos, harganya dinaekin. bos saya akhirnya bilang gak ada anggaran untuk hal-hal yang seperti itu. Tapi mereka tetep maksa dan bilang. “Karena lebaran kami gak kesini, jadi sekalian aja sekarang sekalian buat THR”. what? mereka bukannya baru aja terima gaji ke-13 ya? gajinya kurang ya? padahal pajak yang kami bayarkan setiap bulan tu ga sedikit loh, tapi kenapa mereka masih minta duit aja? ga rela banget jadinya bayar pajak tiap bulan👿

Saya jadi bener-bener merasa terjajah oleh bangsa saya sendiri, pemimpin dan orang-orang yang dipercayakan dapat membawa bangsa ini menjadi lebih baik, dan dapat menjadi abdi negara atau pelayan masyarakat. Saya pernah berdebat sama Mr. N tentang keinginan Mr. N supaya saya mendaftar dan mengikuti tes untuk menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang bekerja di pemerintahan, tapi saya tolak (berkali-kali) karena saya gak suka dengan cara kerja mereka dan mind-set yang terbentuk di otak saya tentang kelakuan mereka yang tidak sesuai dengan komitmen awal mereka. Masuk kerja jam 9 dan pulang jam 2, abis cuti bersama masih bolos kerja, jam 10 pagi lagi ada di tanah abang belanja, pelayanan yang lambat ketika membuat KTP dan urusan-urusan yang berhubungan dengan pemerintahan pasti akan lama selesainya. Korupsi itu ternyata dimulai dari hal-hal kecil ternyata, dan pantas saja korupsi di negeri ini ga bisa dibasmi, toh korupsi sudah sampai staff yang paling bawah dalam struktural mereka. Saya memang mau kaya tapi bukan dengan hasil dari nodong, ngerampok ataupun makan uang rakyat. dan benar kata Bung Karno, kita sedang menghadapi bangsa sendiri dan saudara-saudara sendiri. dan itu perjuangannya lebih berat daripada melawan penjajah.

PS: akhirnya mereka dapatkan apa yang mereka mau. see?? betapa baiknya perusahaan kami terhadap mereka.

Maaf kalo postingan ini agak bernada emosi dan menjelekkan atau memandang buruk kepada mereka yang saya ceritakan diatas, saya cuma gregetan dengan oknum-oknum itu dan ingin meluapkan kekesalan saya terhadap mereka.🙂

About Neng Rina

a 'new' nyonyah di dalam keluarga baru (kecil), yang terus belajar dan menulis.

Posted on August 9, 2011, in Kerjaan, Mereka, Things I don't like and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. Miris abis baca artikelnya, kok ada ya?.. rekam aja lah pake ceuceutipi terus laporin biar kapok!! orang2 kaya mereka semakin dibiarin malah semakin keenakan.

    • hihihi, ada donk. kalo gak ada gak mau juga saya cerita tentang ‘mereka’
      aduh, ceuceutipina teh teu aya kang.. lagi ka pasar ceunah..😀
      iya insya Allah mau dilaporkan segera..

  2. Tak apa jika posting-an ini bernada jengkel atau emosi. Asal selama nggak menyebut nama orang dan institusi.🙂

    Seharusnya buku Undang-undang dan Peraturan Pemerintah itu gratis ya…😐

    • Alhamdulillah sih belum kesebut nama dan institusinya, tapi kalo dari ceritanya mungkin udah tau institusi mana:mrgreen:

      iya, seharusnya mah gratisan. kan udah ada anggarannya.
      untuk apa bayar pajak kalo gitu??apa kata dunia??😆

      • Tergantung juga, sik. Ada yang memang bahan-bahan semacam peraturan itu sudah dianggarkan untuk disebarluaskan secara gratis kepada masyarakat, ada pula yang memang tidak tersedia di anggaran. Tapi sekarang (seharusnya) segala peraturan instansi pemerintah yang berlaku umum sudah tersedia untuk dilihat dan diunduh di situsnya masing-masing.

  3. Wah, bego itu. Mustinya yang ditulis itu nilai minimal.😛

    Itu maksudnya orang Kementerian, kan? Kementerian mana? Yang mengurusi masalah tenaga kerja? Yakin kalau itu benar-benar pegawai dari situ? Saran saya sih, laporkan saja. Sudah nggak zaman hal-hal begituan. Mental pengemis saja…

    Gak semua PNS kek gitu, kok. Percaya, deh. Buktinya, saya PNS. Kami di sini gak kek gitu juga…😀

    • ngakunya sih dari departemen ‘anu’ yang ngurusi masalah tenaga kerja, menurut pengakuan mereka sih gitu, pakai kuitansi malah. Belum sempat di sensus ke dinasnya, eh udah nongol lagi. Laporkannya kamana yeuh? bisa dibantu pak, supaya saya bisa tepat sasaran dalam laporannya?😀

      iya sih, tapi karena satu noda, kotor semua deh bajunya *pribahasa ngarang*:mrgreen:

  4. si.tukang.nyampah

    tsk….Indonesia… *geleng-geleng kepala* *ga tau mo ngomong apa lagi*.

  5. Jadi mereka dapat semua uangnya Rin? Pertama 700ribu dan kedua 400ribu. Gila!!!!!!! *ikutan emosi* — SAMPAH banget yang kayak gitu!

Mari berkomentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: